Bakcang Ayam, Bukti Minang Kolaboratif dan Toleran

by Redaksi
A+A-
Reset

Padang– Bakcang ayam dan lamang baluo menjadi rangkaian acara yang paling ditunggu dalam hari ketiga helatan Festival Muaro Padang. Makanan perpaduan tradisi Tionghoa dan Minangkabau itu ditunggu puluhan masyarakat yang hadir di Muaro Padang, Rabu, (25/4).

Wali Kota Padang Hendri Septa sempat mencoba proses penyajian mulai dari mencetak ketan dan memasukkan isian bakcang ayam ke dalam pandan, hingga mengukusnya.

Terlihat ia cukup cekatan saat diajari Nina (33) dalam membentuk bakcang agar segitiga sempurna. Tidak lupa pula, semua adonan yang baru selesai dibentuk itu ia masukkan ke dalam kukusan.

Tak lama, aroma pandan menyeruak di tengah kerumanan masyarakat Kota Padang yang terlihat antusias untuk mencicipinya. Hendri Septa kemudian membagikan makanan berbahan ketan dengan isian ayam dan telur asin itu kepada pengunjung.

“Bakcang ayam dan lamang baluo adalah perpaduan dua tradisi dari Tionghoa dan Minangkabau. Kita harus terus mengedukasi masyarakat dan generasi muda bahwa kita punya rasa persatuan dan persaudaraan dan harus kita bina,” katanya usai mencicipi bakcang ayam.

Menghadirkan bakcang ayam dan lamang baluo dalam Festival Muaro Padang adalah suatu keharusan menurutnya. Ini berkaitan erat dengan tali persaudaraan masyarakat Tionghoa dengan Minangkabau yang membentuk Kota Padang di sekitar Batang Harau itu sejak abad ke-17.

Terlebih sebelumnya, Festival Bakcang ayam dan Lamang Baluo juga dihadirkan pada tahun 2019 lalu. Kemudian baru bisa terlaksana pada tahun ini karena pandemi covid-19 yang melanda Padang selama lebih kurang dua tahun.

“Kita ini semua bersaudara. Kita harus terus menepis semua pemikiran tentang Kota Padang adalah kota intoleran. Itu salah total, kita sudah sedari dulu hidup berdampingan bahkan memadukan tradisi kita. Ini adalah langkah kita untuk edukasi lebih lanjut kepada masyarakat,” tuturnya.

Kemudian pemilik stand bakcang ayam, Nina (33) menyampaikan bahwa bakcang ayam dan lamang baluo memiliki penggemar yang cukup banyak di Kota Padang. Hal ini dikarenakan bahannya juga hampir sama dengan beberapa makanan khas Minangkabau.

“Biasanya kita jualan tiap hari. Penggemarnya cukup banyak, karena daging ayam yang menjadi isian bakcang ini juga dimasak dengan baik menggunakan daun bawang,” katanya.

Tidak hanya itu, irisan cabai merah di dalamnya juga mampu memberikan sensadi tersendiri saat dimakan bersamaan dengan bakcang ayam. Ia menuturkan, bakcang ayam dibandrol dengan harga Rp 12 ribu.

Terpisah, Tokoh Masyarakat Tionghoa Alam Gunawan menyampaikan bahwa Festival Bakcang ayam dan lamang baluo pernah meraih rekor muri pada tahun 2019. Rekor tersebut diraih dalam kategori penyajian 10ribu bakcang ayam dan lamang baluo.

“Festival bakcang ini pusatnya ada di Hainan. Jadi seluruh masyarakat Tionghoa wajib menghidangkan ini dalam perayaan Hari Bakcang atau dikenal juga sebagai Festival Perahu Naga yang jatuh pada hari ke-5 bulan-5 dalam kalender lunar Tionghoa,” katanya.

Ia juga menuturkan bagaimana ia bersama masyarakat Tionghoa lainnya mengkolaborasikan bakcang dengan masyarakat Minangkabau. Biasanya, bakcang merupakan makanan ketan isian daging nonhalal.

“Maka kita harus sesuaikan. Bakcang ayam akan bisa dinikmati masyarakat luas terutama masyarakat Minangkabau.
Harapan kami tentunya festival ini dapat menunjukkan persatuan Kota Padang dengan etnis Tionghoa,” tukasnya. (DA / kom/*)



Berita Terkait

©2023 – All Right Reserved.
Designed and Published by
PT Sumbarpro Jaya Media