Fiqih Zakat: Hukum Mengalokasikan Zakat kepada Anak Yatim

by Redaksi
A+A-
Reset
Fiqih Zakat: Hukum Mengalokasikan Zakat kepada Anak Yatim

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang ketiga. Zakat adalah suatu ibadah yang paling penting. Kerap kali dalam Al-Qur’an Allah menerangkan zakat beriringan dengan menerangkan shalat.

 

Dalam hal keutamaannya shalat dipandang sebagai ibadah badaniyah yang paling utama dan zakat dipandang sebagai ibadah maliyah yang paling utama. Dalam Al-Qur’an terdapat kejelasan perihal 8 asnaf (golongan) yang berhak menerima zakat:

 

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

 

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah: 60).

 

Berdasarkan ayat di atas pengalokasian zakat harus tepat sasaran dan diberikan kepada salah satu dari delapan golongan yang tertera dalam Al-Qur’an. Delapan kelompok yang berhak menerima zakat ini kemudian disebut dengan mustahiq zakat. Karenanya, tidak sah menyalurkan zakat kepada selain delapan asnaf (golongan) sebagai mustahiqnya.

 

Permasalahan muncul ketika terdapat sebagian masyarakat yang mengalokasikan zakatnya kepada anak-anak yatim. Zakat fitrah maupun zakat mal. Mereka beranggapan bahwa anak-anak yatim juga termasuk kategori orang yang membutuhkan, sebab ditinggalkan oleh orang tua yang menafkahinya. Padahal bila kita telusuri kategori golongan penerima zakat, ternyata anak yatim ini tidak termasuk dalam golongan tersebut.

Pertanyaannya kemudian, bolehkah dan sahkah pengalokasian harta zakat kepada anak yatim dalam sudut pandang fiqih?

 

Dalam fiqih diperbolehkan menyalurkan zakat kepada anak yatim apabila termasuk kategori fakir atau miskin. Dalam arti ia tidak memiliki harta yang mencukupi kebutuhan sehari-harinya, baik bersumber dari harta warisan, wasiat, wakaf maupun dana dari lembaga penyalur donasi dan amal serta sumber dana selainnya. Sehingga, anak yatim tersebut berstatus fakir dan tergolong kelompok yang dapat menerima zakat sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 6.

 

Berkenaan dengan hal ini ulama terkemuka Makkah, Syekh Ismail Zain Al-Yamani (wafat 1414 H), dalam kompilasi fatwanya menyatakan:

 

أَنَّ الْيَتِيْمَ إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ خَاصٌ بِوَرَاثَةٍ أَوْ وَصِيَّةٍ أَوْ نَحْوِهِمَا وَلاَ مَالٍ عَامٍ كَمَصَارِفِ الْفَيْءِ وَالْمَوْقُوْفِ عَلَى الْأَيْتَامِ وَنَحْوِ ذَلِكَ ؛ فَإِنَّهُ حِيْنَئِذٍ يُعْتَبَرُ فَقِيْرًا دَاخِلاً فِيْ اسْمِ الْفُقَرَاءِ -إِلَى أَنْ قَالَ- إِذَا عَرَفْتَ ذَلِكَ فَيَجُوْزُ إِعْطَاءُ الْأَيْتَامِ مِنْ مَالِ الْزَّكَاةِ إِذَا كَانُوْا فُقَرَاءَ لَكِنْ إِنَّمَا يَتَسَلَّمُهَا لَهُمْ وَلِيُّهُمْ أَوْ قَيَّمُهُمْ أَوْ مَنْصُوْبُ الْقَاضِيْ . وَيَتَوَلَّى صَرْفَهَا لَهُمْ فِيْ الْنَّفَقَةِ وَالْكِسْوَةِ وَالْمَسْكَنِ عَلَى الْوَجْهِ الْجَائِزِ شَرْعاً

 

Artinya: “Sesungguhnya anak yatim apabila tidak memiliki harta khusus baginya, dari warisan, wasiat ataupun sesamanya; dan juga harta yang umum seperti halnya pengalokasian harta fai’ (harta yang kembali pada umat Islam) dan wakaf kepada anak-anak yatim dan sesamanya, maka ia termasuk kategori fakir, karenanya diperbolehkan untuk memberikan anak-anak yatim dari harta zakat apabila mereka dalam kondisi fakir. Akan tetapi yang menerimanya ialah wali mereka, oran​​​​​​​g yang mengurusinya, atau orang yang telah diangkat oleh pihak pemerintah. Mereka diperkenankan untuk mengalokasikan harta zakat tersebut untuk kebutuhan sang yatim seperti nafkah, pakaian dan tempat tinggal sesuai prosedur yang telah ditetapkan syariat.” (Ismail Zain Al-Yamani Al-Makki, Qurratul ‘Ain bi Fatawa Isma’il Az-Zain, [Sarang: Maktabah Al-Barakah], halaman 65). 

 

Hal senada juga disampaikan oleh Syekh Taqiyuddin Al-Hisni (wafat 829 H) dalam kitabnya, Kifayatul Akhyar:

 

فَرْعٌ: الصَّغِيْرُ إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ مَنْ يُنْفِقُ عَلَيْهِ فَقِيْلَ لَا يُعْطَى لِاسْتِغْنَائِهِ بِمَالِ الْيَتَامَى مِنَ الْغَنِيْمَةِ وَالْأَصَحُّ أَنَّهُ يُعْطَى فَيُدْفَعُ إِلَى قِيَمِهِ لِأَنَّهُ قَدْ لَا يَكُوْنُ فِي نَفَقَتِهِ غَيْرُهُ 

 

Artinya: “Anak kecil, apabila tidak ada yang menafkahi, maka ia tidak diberi dari harta zakat, sebab telah dicukupkan dengan harta anak yatim. Sedangkan menurut pendapat ashah diperbolehkan memberikannya kepada walinya, sebab, terkadang wali juga menanggung nafkah yang lainnya.”  (Taqiyuddin Al-Hisni, Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayahatul Ikhtisar, [Jeddah: Dar Al-Minhaj], halaman 289).

 

 Simpulan Hukum

Merujuk ketetapan fuqaha yang di atas dapat disimpulkan, hukum menyalurkan harta zakat kepada anak-anak yatim diperbolehkan dan sah apabila anak yatim tersebut masuk dalam kategori fakir ataupun miskin. Dalam arti ia tidak memiliki harta yang dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya, baik harta yang bersumber dari warisan, wasiat, , maupun dana dari lembaga penyalur donasi dan amal, bantuan pemerintah, serta sumber lainnya. Wallahu a’lam bis shawab.

 


Ustadz A Zaeini Misbaahuddin Asyuari, Alumni Ma’had Aly Lirboyo Kediri dan pegiat literasi pesantren.

Sumber

©2023 – All Right Reserved.
Designed and Published by
PT Sumbarpro Jaya Media